Google

Thursday, May 28, 2015

FILSAFAT ILMU, FILSAFAT DAN ILMU - DJOKO AW

Ingin membantu para mahasiswa yang berminat memahami filsafat ilmu,. Sesungguhnya ini merupakan bentangan yang tayang ketika memberi kuliah filsafat ilmu. Tentu hanya yang mengikuti kuliah yang akan lebih paham. Lebih mendalam anda bisa datangi rumah maya kami yang lain dengan search  google, alamat kami di GUDANG FILSAFAT ILMU, pasti anda bertemu.
Silakan nikmati slide ini :


FILSAFAT ILMU EPISODE 1 - DJOKO AW from Djoko Adi Walujohttp://filsafat-ilmu.blogspot.com/

Filsafat Dan Ilmu
Istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak arti. Menurut Socrates, filsafat merupakan cara berpikir secara radikal dan menyeluruh [holistic] atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
Filsafat dalam peranya tidak bertugas menjawab pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, namun justru mempersoalkan jawaban yang diberikan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa berfilsafat adalah berpikir radikal [hingga sampai ke-akarnya], menyeluruh dan mendasar.
Wiil Durant adalah seorang-orang yang menggambarkan filsafat sebagai pasukan marinir yang sedang merebut sebuah pantai. Setelah pantai berhasil dikuasai, pasukan infanteri selajutya mempersilakan mendarat. pasukan infanteri adalah  merupakan, “pengetahuan “ yang diantaranya “ilmu”.
Dari realita itulah nampak bahwa ilmu berasal dari filsafat, perkembangan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu untuk memahami ilmu terlebih dahulu harus memahami filsafat.
Filsafat mendorong orang untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui.
Dinyatakan pula oleh Wiil Durant bahwa filsafat pada awalnya memiliki dua cabang, yakni :

  •   filsafat alami [natural philosophy] 
  •   filsafat moral [moral philosophy]
Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial.
Hal-hal yang menjadi kajian filsafat adalah :

  1. Logika
Logika adalah kajian yang mencari mana yang benar dan yang salah

  1. Etika
Etika adalah kajian yang mencari mana yang baik dan yang tidak baik

  1. Estetika
           Estetika adalah kajian untuk menentukan mana yang indah dan mana yang tidak indah
  1. Metafisika
Metafisika adalah kajian yang termasuk ke dalam teori tentang ada atau tentang tidak ada, hakikat keberadaan suatu zat, hakikat pikiran, dan kaitan antara pikiran dan zat.

  1. Politik
Politik adalah kajian mengenai organisasi pemerintahan yang ideal.

SIMPULAN

S
impulan singkat yang kita peroleh adalah :

 Filsafat bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif, sedangkan cakupan filsafat hanyalah hal-hal yang bersifat umum.
Ilmu memiliki cakupan yang lebih sempit dari filsafat, namun memiliki kedalam dan lebih tuntas. Ilmu mengalami perkembangan, yakni perkembangan tahapan awal dan tahapan akhir. Pada tahapan awal ilmu masih menggunakan norma filsafat sebagai dasarnya dan metode yang digunakan adalah metode normatif dan deduktif. Tahapan berikutnya ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai dasarnya dan menyatakan dirinya sebagai sesuatu yang otonom/lepas dari filsafat, dengan menggunakan metode deduktif dan induktif.

FILSAFAT ILMU


Y
ang dimaksud dengan filsafat ilmu adalah studi sistematik mengenai sifat hakikat ilmu, khususnya yang berkenaan dengan metodenya dan kedudukannya di dalam skema umum disiplin ilmu.
Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu dapatlah dicermati rangkuman ranah telaah yang tercakup dalam filsafat ilmu, seperti berikut :

Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap symbol-symbol yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang system symbol yang digunakan. Telaah kritis diarahkan untuk mengkaji ilmu empirik dan juga ilmu rasional, juga untuk membahas studi-studi bidang etika dan estetika, studi sejarah, antropologi, geologi dll.
 Metode yang diangkat biasanya dinyatakan  dengan istilah induktif, deduktif, hipotesis, data, penemuan dan verifikasi. Selanjutnya secara mendalam dinyatakan dengan istilah ekperimentasi,  pengukuran, klasifikasi, dan idealisasi.

Filsafat ilmu adalah suatu upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep dan upaya membuka tabir dasar-dasar empiris (ke-empirisan) dan dasar-dasar rasional (ke-rasionalan). Aspek filsafat sangat erat hubungannya dengan hal ihwal yang logis dan etimologis. Sehingga peran yang dilakukan adalah ganda. Pada sisi pertama filsafat ilmu mencakup analisis kritis terhadap “anggapan dasar”, seperti  waktu, ruang, jumlah /kuantitas, mutu/kualitas dan hukum. Sisi lain filsafat ilmu menelaah keyakinan menganai penalaran proses-proses alami.

Filsafat ilmu merupakan studi gabungan yang terdiri dari beberapa kajian, yang diajukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu. Juga berperan untuk menganalisis hubungan atau antar hubungan yang ada pada kajian satu terhadap kajian yang lain.


BEBERAPA TERMINOLOGI FILSAFAT ILMU


  •  Menurut Robert Ackermann :

Sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang membandingkan dengan pendapat terdahulu yang telah dibuktikan

  •  Lewis White Beck:

Mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan

  •  Cornelius Benyamin

Cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya, praanggapan-praanggapannya , serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang intelektual

  •  May Brobeck :

Sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukiasan , dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.

TUJUAN FILSAFAT ILMU


  •  Sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah
  •  Usaha merefleksi , menguji, menkritik asumsi dan metode keilmuan
  •  Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Karena setiap metode ilmiah keilmuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan rasional.

MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN


1.      Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai ontologis. Melalui paradigma ontologism diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme ilmu pengetahuan.

2.      Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan pertindustrian dalam batasan nilai epistemologis. Melalaui paradigma epistemologis diharapkan akan mendorong pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah


3.      Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan axiology. Melalui paradigma axiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku adil dan membentuk moral tanggung jawab. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan unntuk kepentungan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek alam sebagai sumber kehidupan.
4.          Menyadarkan seorang-orang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”, yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengkaitkan dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Kenyataan sesungguhnya bahwa setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial kemasyarakatan
 

CATATAN PERIHAL ILMU PENGETAHUAN


1.      Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi

2.      Ilmu dankebenaran ibarat dua sisi dari sekeping mata uang [two sides of some coin]. Dengan kata lain, “ if one were to speak about truth or reality one has to investigate how to know what reality is”

3.      Netralitas ilmu: Ilmu itu sendiri bersifat netral tidak mengenal baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang mempunyai sikap.

4.      Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dan berkembang sebagai konsekuensi dari usaha-usaha manusia baik untuk memahami realitas kehidupan dan alam semesta maupun untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, serta mengembangkan dan melestarikan hasil-hasil yang dicapai manusia sebelumnya.

5.      Dikatakan oleh Einstein, “bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta apapun juga teori yang disusun diantara mereka”



LAKUKAN REFLEKSI




  •  Filsafat ilmu memiliki potensi dalam meningkatkan harkat martabat manusia, oleh karenanya sangat relevan dikaji untuk mahasiswa pascasarjana
  •  Filsafat ilmu menjamin pola sikap cinta kebijakan [love of wisdom]

 














 




 

 

 

 RUJUKAN YANG DIGUNAKAN



Ahmad Tafsir [2004] Filsafat Ilmu [mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan] : PT Remaja Rosda Karya Jakartaà  35-59
Alex Lanur OFM  [1993] Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu : Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama Jakartaà 13:52
Conny Semiawan, Dkk [2005] Panorama Filsafat Ilmu [Landasan pengembangan ilmu sepanjang Zaman] : Penerbit Teraju [PT Mizan Publika]  Bandung à Bab IX .107: 123
Rizal Muntansyir [2001] Filsafat Ilmu : Pustaka Pelajar Jakarta . àBab I ; 1:26, Bab  II 42:49
Shah AB[1986] Metodologi Ilmu Pengetahuan : Yayasan Obor Indoensia – PT Karya Uniper Jakarta à Bab III  24:30



Sunday, February 17, 2013

MERENCANAKAN KEGIATAN TK

BAHAN RAKOR:
(Rapat Koordinasi Pendidikan TK Provinsi Jawa Timur)


Membangun sinergis yang solid ke dalam ranah mutu 
djoko adi Walujo
 Rapat Koordinasi Tiga Komponen Pendidikan TK – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur”
HOTEL SUKI BATU : 18 Pebruari 2013

PENGANTAR

H
ampir dapat  dipastikan bahwa semua program kegiatan yang dirancang, diharapkan memiliki ekpektasi agar mencapai tujuan, selanjutnya diupayakan untuk memenuhi kaidah EER (efektif efisien dan rational). Namun kenyataannya kadang berbeda, dan hampir semua program yang direncanakan cenderung menghadirkan kesenjangan antara rencana dengan actualnya.

Langkah memperpendek kesenjangan adalah sebuah siasat yang dimatangkan dan dimutakhirkan, tanpa strategi itu, maka dapat diidentikan sebuah kegiatan bernuansa sia-sia. Kemudian sebuah ancangan yang akan memastikan program menjadi kenyataan, adalah sebuah formula yang bernilai “goal congruent” dicapai melalui sinergi. Sebuah program akan dinyatakan strategis,  bila perencanaan itu diawali dengan  pencermatan sangat mendalam, yang melibatkan segenap variabel. Adapun variabel-variabel yang harus  diantisipasi adalah variabel erat kaitannya dengan dinamika perkembangan teknologi. Kemudian juga dilakukan pengutan (reinforcement) kepada variabel-variabel lain yang berdaya mereduksi ego sektoral.
         Perkembangan teknologi yang super cepat dan super dahsyat, acapkali membuat usang sebuah program (program mati sebelum aplikasi). Kemudian munculnya egosektoral membuat sebuah program kegiatan bermata picik dan atomistic, bahkan membuat program tidak dinamik.  Inilah yang akan dijadikan titik pandang, dalam menyosong rapat koordinasi saat ini. Sesungguhnya rapat koordinasi yang dilakuka

PARADIGMA YANG  MEMBELENGGU
Sebuah fenomena yang memprihatinkan pada dunia pendidikan saat ini(program-program pendidikan), masih banyak pikiran dan aktivitas real yang terbelenggu oleh paradigma usang yang menyatakan bahwa dirinya dibutuhkan oleh masyarakat [driver company/driver university/ driver school]. Sesungguhnya paradigma ini justru paling dominan memberikan kontribusi negatif dalam layanan, oleh karenanya harus diubah dari driver university/drive organisation menjadi driver market/driver siocial communities, dengan demikian akan terwujud  sebuah aktivitas pendidikan yang memiliki resonansi kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat, apalagi bila dalam melangkah diawali dengan melakukan analisa kebutuhan [need assessment].
Guna memberikan bingkai yang kokoh terhadap keinginan tersebut, maka diperlukan adanya strategi khusus untuk mengungkap kelemahan-kelemahan utamanya dengan melibatkan segenap komponen stakeholders.

PROGRAM  KITA  HARUS  BERKUALITAS  GLOBAL 

B
Ila kita menderivasi mutu untuk memacu institusi kita (program-program PAUD), maka kita harus menyadari bahwa kualitas itu adalah keharusan (the rule of thumb).  Kualitas bukan manis bibir, dan kualitas bukan aktivitas “abal-abal”. Kualitas adalah tuntutan sekaligus jatidiri. Oleh karenanya setiap nafas sebuah kegiatan harus mengacu dimensi kualitas. Berikut dipaparkan visualisasi “triple of greater mutu.
n, harus sarat dengan niatan yang mengarah pada produk program yang cerdas, holisitic (menyeluruh), dan menyentuh akar permasalahan.  Sehingga dapat diproyeksikan  untuk membangun kesadaran mutu dengan mengedepankan jaminan mutu [quality assurance], karena saat ini musimnya masyarakat menagih jaminan mutu.
Greater responsibility diartikan : sebuah kewajiban institusi/organisasi untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan kinerjanya kepada stakeholders [pemakai jasa/ konsumen, dunia profesi/dunia usaha]
Greater Quality Assurance:  berarti jaminan terhadap kualitas proses maupun qualitas produk, pencapaiannya melalui evaluasi internal maupun eksternal.
Greater Accountability : dimaknai sebagai tanggungjawab, serta tanggung gugat dan tanggung urai. Akuntabilitas hakikatnya adalah tuntutan global yang mengharuskan sebuah institusi tidak hanya bertanggung jawab kepada pemerintah, namun juga  bertanggung jawab kepada stakeholders.

 

PROGRAM YANG SMART


Menurut Garvin [dalam lovelock  1994; Peppard dan Roweland 1995] terdapat beberapa macam perspektif kualitas yang berkembang adapun dimensi yang terkait antara lain :  

Kemampuan untuk dipercaya [dependability]:
Dependability menggambarkan akuntabilitas secara makro baik dari penyediaan infra struktur [fasilitas] hingga kemampuan membangun relasi network antara program organisasi/ institusi dengan stakeholders, dalam hal ini dunia usaha/industry/ masyarakat.


Ketepatan dengan spesifikasi [conformance to spesification]:
Apakah sebuah karya memenuhi criteria on- time; [kosistensi dan ketepatan waktu] on delivery [ketepatan sajian/pengiriman]; on spesification [ketepatan spesifikasi] serta memiliki kemampuan mengeliminasi kesalahan, zero defect [nir kecacatan]; zero complaint [nir keluhan-sanggahan] dan Zero waste .

Daya Tahan [durability]

Program yang didisain memiliki nilai prediktif, sehingga tidak ketinggalan jaman dan  memiliki daya adaptasi.

  NEED ASSESMENT ADALAH ENERGI JAMINAN MUTU

        Dalam praktiknya keunggulan daya pembeda [comparative advantage] merupakan solusi terbaik dalam meneggakkan mutu, agar sebuah perencanaan program memiliki daya pembeda maka diperlukan need assessment.
Mengapa Need Asssessment?, need assessment dilakukan untuk memperkecil gap antara :
Harapan organisasi/institusi  
>< 
Harapan masyarakat
Kebutuhan organisasi/institusi
>< 
Kebutuhan masyarakat
Kepentingan organisasi/institusi
>< 
Kepentingan masyarakat

       Dari realitas inilah maka Tovey berpendapat bahwa need assessment pada dasarnya adalah a process of comparing the actual performance of individuals with the standard of performance at which they are expected to operate.  Berdasar pemikiran itu maka need assessment dapat difungsikan:
q  Collect information on the skills, knowledge and feelings of the performers;
q  Collect information on the job content and context;
q  Defined the desired and actual performance in useful detail;
q  Involve stakeholders and build support;
q  Provide data for planning 

Kita pahami bersama bahwa program kegiatan adalah gambaran nyata sebuah institusi untuk mengarahkan potensinya guna menciptakan produk/jasa yang berkualitas.  Berikut “kotak peringatan” yang menggambarkan akibat bila kita melupakan suatu keharusan.


NO.
KEHARUSAN YANG TERLUPAKAN
AKIBAT
1.
Tanpa menetapkan VISI
Perish
2.
Tanpa menetapkan MISI
Confusion
3.
Tanpa ACTION PLAN
False start
4.
Tanpa membangun SKILL
Anxiety
5.
Tanpa membuat RULE
Conflict
6.
Tanpa INCENTIVE
Slow change
7.
Tanpa RESOURCE
Frustrations



          Semoga rapat koordiansi ini mampu mengembangkan pikiran baru yang terpadu berlatar mutu.

Thursday, September 13, 2012

WAWASAN PRESTATIF


BANCAR (BAHAN CERAMAH SEBENTAR)
BERWAWASAN PRESTATIF
Oleh : Djoko Adi Walujo.
OPSPEK MAHASISWA BARU UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA
Kampus Pagi-Bunga Matahari Bersemi.

Pengantar:

                 Sungguh celaka jika hingga saat ini kita masih mengedepankan intuisi dalam bertindak, karena perkembangan teknologi yang begitu deras memungkinkan kita dalam bertindak selalu mensinergikan wawasan dari segenap dimensional. Merangkai pemikiran rasional dan dironce dengan realitas sosial adalah jawaban atas kemajuan teknologi yang kita rasakan saat ini.
               Dikaitkan dengan kemajuan teknologi yang kehadirannya selalu dibarengi dengan pola pikir dan pola laku efektif dan efisien, serta manifestasinya selalu menyeret hadirnya pola sikap manusia yang cenderung bersaing dan bertanding dan meninggalkan bersanding. Keadaan ini mengondisi setiap manusia secara terus menerus memperbaiki citra dirinya agar dapat eksis di kondisi ini.
              Menjaga eksistensi diri sama halnya menjaga pola pikir dan pola tindaknya yang sewaktu-waktu seirama dengan tuntutan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar budaya. Untuk mencapai hal ini, maka sangat bijak jika manusia itu selalu on the track pada wawasan prestatif. Karena wawasan prestatif akan memproduk manusia-manusia profesional dengan daya juang tinggi, tanpa harus meniadakan lainnya.
             Kegiatan Opspek – Mahasiswa Universitas Adi Buana tahun 2012, sangat memungkinkan untuk diseminasikan wawasannya, ke arah wawasan prestatif. Wawasan prestatif ini, sesungguhnya adalah suatu bentuk wawasan yang membangkitkan kapabilitas indiviual, yang kemudian akan berkembang menuju kelompok yang lebih besar. Subtansinya adalah bagaimana menjaga motivasi berprestasi, dan dalam menjaga motivasi ini dikaitkan dengan kapabilitas individual pendekatan yang sangat lekat  adalah konsep AKU yang kepanjangannya Ambisi, Kenyataan, dan Usaha.

Monday, April 30, 2012

FILOSOFI METODOLOGI PENELITIAN DAN KOMUNIKASI ILMIAH

ISENG (INFORMASI SINGKAT SEKALI)
Buku ini mampu mendasari seorang-orang yang akan melakukan penelitian, dan kalau berpikir secara sequensial maka buku ini tentunya wajib untuk dibaca dan dipahami oleh mahasiswa pascasarjana yang akan menyusun thesis. Ada yang menenarik dari buku ini, kuatnya tataran filosofis yang mendasari buku ini, mulai berpikir deduksi yang sangat diperlukan ketika dalam menurunkan hipotesis, juga dipaparkan berpikir induksi, bagaimana seorang-orang yang akan menverikasi hipotesis. Tepatnya pada halaman 20, terpapar jelas, serta didukung visualisasi (bagan) yang memudah untuk mencerna maksud penalaran tersebut.
          Pada halaman 47 membentangkan bagaimanakah memperoleh zebuah masalah penelitian, sedangkan menurut buku ini setidak tidaknya ada empat alasan mengapa masalah penelitian itu diangkat (dipilih), antara lain:
1. alasan ilmiah (scientific reasoning)
2. alasan masuk akal (logical reasoning)
3. alasan khas (specific reasoning)
4. alasan praktis (practical reasoning).
Indikator ini sering ditanyakan penguji dalam ujian Tesis maupun Desertasi, berkaitan dengan hal itu, maka memperdalam kembali alasan yang mendukung penetapan masalah penelitian adalah langkah yang sangat bijak.
Kemudian terkait dengan Hypotesis, buku ini membentangkan latar bagaimana, dan mengapa hypotesis. Mulai dari menformulasikan, hingga penentukan pengujiannya dibahas tuntas di halaman 53 hingga 57.
Selanjutnya  pada halaman 59 di bahas mengenai variabel.
Sungguh mengelitik buku ini, variabrl dipadankan dengan "tukang ubah", jadi variabel itu dalam penelitian memang sering berperan ibarat "tukang ubah".
Variabel = Peubah=Tukang Ubah= charggeable.
Dan akhir pembahasan buku ini  dibentangkan klomunikasi ilmiah (Scientific Communication)

Sunday, April 22, 2012

BANGUNAN TEORI - DR AGUS SALIM MS

 SARAN BACA RUTIN (SABAR)
http://tiarawacana.co.id/kat_infobuku.php?ID=205 



Agus Salim
Bangunan Teori: Metodologi Penelitian Untuk Bidang Sosial, Psikologi, dan Pendidikan
xvi + 108 hlm; 14,5 x 21 cm
ISBN: 979-9340-91-8
Bangunan Teori merupakan materi baru dalam kajian metodologi penelitian sosial. Kajian Bangunan Teoridiin?trodusir pertama kali oleh John J.O.I. Ihalauw, Ph.D pada program studi Pasca Sarjana, Universitas Satya Wacana Salatiga dan menjadi materi ung�gulan pada tahun 1980. Oleh penulis buku ini, Bangunan Teori dikembangkan lebih lanjut dengan materi filsafat ilmu dan pengembangan aplikasinya pada bidang ilmu-ilmu sosial.

Urgensi dari mempelajari Bangunan Teori adalah karena selama ini keberadaan ilmu belum banyak dilihat sebagai suatu proses. Ilmu masih terlalu sering dipandang sebagai produk yang diberikan secara paket dan sebagai akibatnya, metodologi pun masih dilihat sebagai kajian yang berdiri sendiri, sementara substansi ilmunya sering kali kurang menjiwai perkembangan metodologi tersebut. Padahal keberadaan metodologi tidak bisa dilepaskan dari substansinya. Belajar tentang metodologi penelitian misalnya, berarti pula belajar tentang upaya untuk memahami Bangunan Teori secara utuh dan lengkap, serta berbagai strategi yang diperlukan untuk mengklarifikasi masalah-ma�salah sosial (psikologi dan pendidikan) yang dikaji. Dan karena penelitian ilmu-ilmu sosial pada hakikatnya adalah pengkajian konsep limas Bangunan Teori yang lekat dengan sub�stansi keilmuannya, maka mengkaji Bangunan Teori semestinya menjadi sasaran awal sebelum orang mengadakan pengkajian materi penelitian.

Mempelajari Bangunan Teori dengan demikian sama artinya dengan menempuh pendekatan khusus untuk memahami ilmu dan metodologi secara bersama-sama. Pendekatan khusus seperti ini diharapkan dapat menguak cakrawala kepiawaian para mahasiswa dan kalangan akademisi dalam melihat substansi dan metodologi sebagai suatu kesatuan.

Buku Bangunan Teori ini dimaksudkan sebagai buku pegangan bagi para mahasiswa dalam menyelesaikan Tugas Akhir, membuat Skripsi ataupun Tesis. Bagi para peneliti yang memiliki rencana membangun teori-teori baru, buku pegangan ini diharapkan cukup membantu untuk membelah akar-akar teoretis dan menemukan arah perkembangan teoritis terbaru yang lebih relevan dengan masalah yang sedang dikaji.
Daftar Isi
  • BAB I - PENDAHULUAN
    • 1. Bias Teori-teori Ilmu Sosial dan Pendidikan
      2. Bangunan Teori Pendekatan Positivisme dan Fenomenologi
      3. Pentingnya Bangunan Teori
      4. Materi Sajian
  • BAB II - ANCANGAN FILOSOFIS DARI BANGUNAN TEORI
    • 1. Filsafat Ilmu
      2. Penelitian dan Aras Kiblat Berpikir
      3. Penghampiran Berpikir Daur Induksi-Deduks
  • BAB III - PARADIGMA
    • 1. Paradigma Thomas Kuhn
      2. Paradigma Sir Karl R. Popper
      3. Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif
  • BAB IV - KONSEP
    • 1. Menemukan Situasi Problematik dan Merumuskannya
      2. Merumuskan Persoalan dalam Penelitian
      3. Unit Analisis
      4. Membentuk Konsep dan Mentakrifnya
      5. Struktur Sebuah Takrif
      6. Takrif yang Penad dan Matra Konsep
      7. Macam Konsep dan Pengukurannya
      8. Ketepatan dalam Pengukuran Konsep
      9. Konsep dari Induksi
  • BAB V - DALIL
    • 1. Struktur Dalil
      2. Hubungan yang Dikandung Suatu Dalil
      3. Arah yang Dikandung Suatu Dalil
      4. Langkah-langkah Perumusan Dalil
      5. Bias dalam Menelaah Perilaku Manusia
      6. Dalil dari Induksi
  • BAB VI - MODEL DAN TEORI
    • 1. Membangun Model dan Teori
      2. Model dan Teori dari Induksi
      3. Tipologi Model dalam Teori-teori Sosial
      4. Rumusan Model atau Teori
      5. Struktur Teori
  • BAB VII - NISBAH BANGUNAN TEORI DAN KEGIATAN PENELITIAN
    • 1. Sistem Teori
      2. Teori dan Penelitian
      3. Pemaknaan dan Pengujian Bangunan Teori
  • BAB VIII PENUTUP
  • GLOSARIUM
  • DAFTAR PUSTAKA
  • BIODATA PENULIS

Saturday, April 21, 2012

TRIANGULASI



ISENG = INFORMASI SESINGKATNYA

Ketika membimbing mahasiswa  pascasarjana  yang mempunyai peminatan terhadap penelitian kulitatif, acapkali yang ditanyakan masalah keabsahan data.  Beda dengan mahasiswa yang meminati penelitian kuamntitatif, mereka tingal “bim salabim abra kedabra” keluar dari out SPSS.  Tapi uintuk kualitatif setidaknya harus mengenali “triangualasi”. Akhirnya menyadari sebagai sadaran tanya para mahasiswa maka, perlu memberikan suntikan sekaligus pemahaman singkat. Selanjutnya saya muat di lembaran ini, yang sering saya sebut dengan  “ISENG” alias Informasi Sesingkatnya.





Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Peneliti melakukan triangulasi dengan membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Pada metode triangulasi dapat diperoleh dengan berbagai cara:
1.       Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2.      Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi terbuka dan tertutup.
3.      Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat an  pandangan orang.
4.      Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
TRIANGULASI
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang diukur adalah benar – benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat ditempuh melalui proses pengumpulan data yang tepat (data collecting) . adapun salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu (sumber) yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
Metode triangulasi merupakan salah satu metode yang paling umum dan sering  di gunakan dalam pengujian  validitas penelitiankualitatif. Metode triangulasi di dasarkan pada paradigm fenomenologi. Fenomenologi merupakan aliran filsafat yang mengatakan bahwa kebenaran bukan terletak pada peneliti, melainkan realitas objek itu sendiri. untuk memperoleh kebenaran, secara epistimologi harus dilakukan penggunaan bebrbagai perspektif (multiperspektif)
Triangulasi adalah proses untuk mendapatkan data valid melalui penggunaan variasi instrumen.  Ide dasar mengenai triangulasi bersumber dari ide tentang “ multiple operasional” yang menggambarkan bahwa kesahihan temuan-temuan serta tingkat konfidensinya akan dipertinggi oleh pemakaian lebih dari satu pendekatan untuk pengumpulan data. Pendapat ini semula dirumuskan dalam konteks penelitian kuantitatif, yang menggunakan paradigm pendekatan dari satu pendekatan operasionalisasi konsep direkomendasikan mengingat fakta-fakta bahwa semua perhitungan cenderung keliru.
Metode triangulsi ini merupakan cara pengkombinasian antara penelitian kuantitatif dan kualitatif yaitu dengan cara mengecek antara satu tipe hasil penelitian (kuantitatif misalnya) dapat dicek dengan hasil penelitian yang diperoleh dari tipe penelitian yang lain (kualitatif). Triangulasi ini umumnya dimaksudkan untuk meningkatkan validitas hasil penelitian.
Fungsi dari penggunaan metode triangulasi adalah untuk memahami fenomena sosial dan konstruksi psikologis, karena untuk pemahaman hal tersebut, tidak cukup hanya  menggunakan satu alat ukur saja. Akan tetapi menekankan digunakannya lebih dari satu metode dan banyak sumber data termasuk di antaranya adalah sejumlah peristiwa yang terjadi.

JENIS-JENIS METODE TRIANGULASI
Menurut Sugiyono(370) ada 3 macam yakni triangulasi sumber, teknik dan waktu. Disisi lain ada yang mengatakan ada ber macam-macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu :
a. Triangulasi data
Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda.
b. Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak Sebagai pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.
c. Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat.
d. Triangulasi metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat wawancara dilakukan.

Selanjutnya Denzin membedakan empat macam teknik triangulasi. Yaitu :
a. Triangulasi data atau sumber data
Triangulasi data ini dimaksudkan agar dalam pengumpulan data peneliti menggunakan banyak sumber data. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kelitatif.
Hal ini dapat dicapat dengan jalan :
Membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil observasi
Membandingkan dengan apa yang dikatakan secara pribadi dengan apa yang dikatakan di depan umum.
Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dari berbagai lapisan masyarakat baik tingakat pendidikan, satatus pekerjaan misalnya.
Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen lainnya.
b. Triangulasi metode
Di dalam teknik ini, menggunakan berbagai metode pengumpulan data untuk menggali data sejenis. Pada triangulasi ini, terdapat dua strategi  yaitu :
pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa tehnik pengumpulan data.
pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
c. Triangulasi peneliti
Diharapkan dengan adanya beberapa peneliti yang melakukan penelitan dengan menggunakan pendekatan yang sama, akan mendapatkan hasil yang sama.
d. Triangulasi teori
Dalam membahas suatu permasalahan yang sedang di kaji, hendaknya peneliti tidak menggunakan satu prespektif teori. Sehingga nantinya di dukung dari multiple theory.


Tuesday, March 13, 2012

METHODE TAGUCHI,.....LOSS FUNCTION

UNTUK DIPELAJARI, MAHASISWA TEKNIK INDUTRI, TERKAIT MATA KULIAH PENGENDALIAN KUALITAS. SILA KLIK YANG BERMINAT.

Monday, January 9, 2012

BAHAN UAS KEWIRAAN

SILAHKAN KLIK!

Saturday, November 19, 2011

FILSAFAT ILMU & METODOLOGI PENELITIAN

Cocok disantap oleh siapa saja, utamanya bagi mahasiswa yang sedang memprogram Filsasat Ilmu. Tersaji dengan mengaitkan Metodologi Riset. Filsafat ilmu itu sangat dekat dengan Metodologi Penelitian, karena bangun filsafat ilmu mensyaratkan pemahaman atas pilar keilmuan. Pilar pertama epistemologi yang mencerna bagaimana bentuk wujud yang dijadikan ranah penelitian. Secara otologis bentuk penelitian harus berada diwilayah empiri, nyata dan dapat dilihat dirasa. Kemudian epistemologi suatu pilar keilmuan yang bergandengan  dengan metodologi. Penelitian akan bernilai ilmiah jika terwadahi bingkai keilmuan, ranah epistemologi berkata, bahwa ilmiah jika dapat dikontrol oleh rasio manusia (logis), dan dapaty diverifikasi secara empiri. Kemudian untuk membicarakan manfaat dan etika penelitian terwadahi oleh ranah axiologis. Buku ini juga diprakir di blog Gudang Filsafat